Myself : Unextended Version (Chapter 2)

Setiap bulan Februari, menjelang Ramadhan dan akhir Ramadhan aku selalu datang ke makam ibuku. Di bulan Februari itu ibuku, Lasmi Yusuf menghembuskan nafas terakhir kalinya. Sekiranya dia begitu cantik waktu itu. Meninggalkanku merah, dan tanpa disusuinya lagi. Kadang terlalu dilematis untuk diceritakan. Huff..
Aku tidak akan pernah lelah dengan hidupku. Aku akan tetap FIGHT and SURVIVE untuk hidupku sekarang dan nanti. Huff…No Way For Tired.
Kuparkir sepedaku di pelataran parkir pemakaman Kristen Immanuel di tempat tinggalku. Sejatinya itu hanya untuk makam orang-orang Kristen, tapi entah mengapa orang-orang Katolik pun juga dimakamkan di situ, termasuk ibuku. Kulepaskan alas kakiku menuju pusara ibuku. Ada di sebelah agak ujung sana. Tertutup dengan makam seorang Romo yang cukup besar.
“Ohh..Ibu, aku begitu rindu denganmu”, kesahku dalam hati. Aku berdoa dengan caraku sendiri. Cara yang ibuku sendiri dulu mungkin belum pernah mengenalnya. Di bulan Februari terakhir ini, aku bebarengan dengan beberapa orang yang datang ke makam itu dengan maksud seperti aku, berziarah. Hanya aku yang memakai jilbab di sana, hanya aku yang melepas alas kaki. Mungkin dalam hati mereka “kenapa aku ini ada di sana?”.
Mereka hanya tidak tahu aku, dan aku membiarkan mereka melihatku begitu saja. Aku tidak pernah menangis sewaktu di makam ibuku. Hanya kadang aku membayangkan jika saja ibu dulu tidak pergi begitu cepat. Tapi, sewaktu aku sampai di kamar rumahku. Segala sesak aku tumpahkan di balik bantal.
Terantuk, aku sandarkan kepalaku pada salib besar di makam ibuku. Hanya membayangkan apa yang terjadi dengannya sekarang ini. O..ya ALLAH…
This is my life and I have to run my life as well as possible. .i promise GOD bless me forever..bukankah hanya Dia yang bisa memberi kemudahan bagi kita?? Bukankah hanya Dia yang mampu mengerti kita??

Tidak ada orang yang minta susah. Namun, ketika kesusahan itu datang. Apa kita harus marah pada TUHAN. Pasti ini akan membuat sakit dan capek. Iya khan??
Aku pun tidak akan lagi bertanya-tanya pada TUHAN kenapa harus memberi hidup seperti ini. Sama sekali tidak ingin lagi aku bertanya pada-Nya. Telah aku mengerti, setelah menjalani pemahaman beberapa waktu, selama ini. Everything needs process. Aku telah menjalani hidup ini dengan seadanya, apa adanya. Aku Cuma mengharap segala kemudahan dan kemurahan-NYa. Amin..
Apapun pemberian yang aku terima dari Mu, semua kuserahkan pada persepsi Mu semata. Karena persepsi Mu adalah keagungan dalam suatu gambaran yang nyata. Segala keindahan dan ketidakindahan dalam tiap persepsi adalah juga pemberian Mu.
****
“Bapak, kapan bapak mantuk maleh (baca:pulang lagi)?”, Tanyaku ketika beliau menelfon ke hp ku. “waduh nduk, kapan yo!!” jawabnya sepertinya sambil mikir. “wes ngene ae, mengko tak kabari maneh”, tambahnya. Bla..bla..bla..Aku seneng sekali kalau beliau mengabarkan akan pulang ke tanah air. Yah..begitulah kalau punya bapak seorang perantauan. TKI maksudnya..selalu ada kerinduan tersendiri. Apalagi bapak pulang membawa keluarganya yang di sana. Yang paling kusuka adalah bercakap-cakap dengan dek Susan (panggilan untuk Suzainne). She’s so cute. She’s so smart girl. Aku aja masih kalah smart. Wkaka…I’m so proud of her. Really..
Aku tahu siapa aku, hanya seorang anak manusia yang begitu berusaha FIGHT dalam hidup ini. Secara, ini memang juga harus dilakukan oleh seluruh umat manusia, terlepas siapapun dia. Iya khan??
Thinking ‘bout way to persuade my beloved Bapak to learn more ‘bout Islam : Next Story…
So, bersambung…

5 Responses to “Myself : Unextended Version (Chapter 2)”


  1. 1 hanggadamai April 25, 2008 pukul 2:51 am

    ditunggu kelanjutannya🙂

  2. 2 Sawali Tuhusetya April 25, 2008 pukul 8:32 am

    semoga bu nisya tetap fight dan semangat dalam menghadapi brbagai persoalan dan dinamika hidup. almarhumah ibu sudah berada di alamnya yang baru. doakan saja agar beliau mendapatkan ampunan.

  3. 3 peyek April 25, 2008 pukul 2:53 pm

    semoga tetap semangat, perjuangan untuk sekedar bertahan membutuhkan banyak energi

  4. 4 mybenjeng April 26, 2008 pukul 6:08 am

    minum vitamin bu… (?)
    kan biar semangat…🙂

  5. 5 Mr. Rie Mei 19, 2008 pukul 1:42 am

    Seorang anak yang berbakti…
    Seorang manusia yang terus berusaha berjuang…
    seorang hamba Allah yang terus berusaha beribadah…
    keep fight… keep consist… keep patient
    percayalah setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, dengan niat yang baik, yang terus diiringi dengan do’a, dan tawakkal menerima hasilnya… sungguh tiada yang lebih baik dari itu semua (termasuk dunia dan seisinya)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Indonesian Muslim Blogger
Catatan Sawali Tuhusetya

Akafuji Supports In

Gudang karya

Bukan Hitungan Weton

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Pengunjungku

  • 81,042 Click

Klik klik teruuss...

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: