kita Mungkin tersesat di negeri ini

kita memang terbiasa bingung. Bingung menjadi manusia yang bingung. Kita sebagai rakyat sering bingung disebabkan mungkin pemimpin kita orang yang membingungkan dengan segala kebijakan-kebijakan yang mulai tidak masuk akal dan seakan-akan mencekik leher rakyat. Boleh jadi, kebijakan-kebijakan itu lahir dari buah pikir pemimpin yang telah berusaha dengan kerasnya menuruti kemauan rakyatnya yang memang terlanjur menyukai hal-hal yang membingungkan.

Contoh kecil saja, tesesat di jalan raya. Kita orang Indonesia yang telah hidup berpuluh-puluh tahun dan tinggal di negara yang rupawan bak jamrud katulistiwa ini betapa mudahnya tersesat ketika sedang berkendara di kota lain. Tahu-tahu kedapatan berkendara di jalur yang salah ataupun kebablasan jalan. Muter-muter gak karuan sampai-sampai yang melihat kita pun ikut bingung. Walau ketersesatan ini tidak benar-benar fatal, tapi jujur itu pasti sangat melelahkan dan terkadang ini memalukan.

Seorang turis luar negeri yang baru sampai tanah air kita jarang sekali yang kebingungan dan tersesat ketika harus blusukan dari jalan ke jalan, dari kampung ke kampung, dari kota ke kota atau bahkan di hutan belantara sekalipun. Sederhana saja jalan pikiran mereka. Bawa peta!!

Ialah Mai Akita, seorang turis asal Jepang yang juga temanku. Dia pergi seperi-perginya walau kali pertama tinggal di kota tempatku menimba ilmu. Padahal atiku kitir-kitir, takut kalau dia tidak dapat kembali ke guest house. “hatiku akan lega kalau aku pergi membawa peta”, katanya padaku dengan bahasa Indonesia yang kedengarannya sedikit aneh.

Hanya berbekal chizu (peta kota) ia pergi. Baginya, selembar peta jauh lebih bisa dipercaya dari pada petunjuk tukang becak, arahan para pejalan kaki di trotoar, atau bahkan keterangan polisi. Kita memang sering memberikan tambahan kebingungan pada orang yang sedang bingung dengan memberi petunjuk yang membingungkan.

Tersesat di dunia bisa dilihat bersama, tapi tersesat di akherat tidak gampang membuktikannya… beberapa bulan silam, atas dasar sekelompok orang ingin menumpas ketersesatan suatu kelompok lain. Mereka tega membakar, memusnahkan, memporakporandakan suatu tempat ibadah orang lain. Begitu gampang memberi lebel sesat, begitu gampang memberi claim . Padahal, kelompok yang berkoar-koar tadi belum tentu bebas dari istilah sesat!!, karena dalam hal ini Tuhan lah yang mempunyai hak mutlak atas penilaian sesat atau tidaknya suatu kelompok/kaum.

Ketersesatan kita semua adalah karya bersama. Rakyat yang tersesat dalam kebodohan, kemiskinan, kelaparan, dan ke..ke..yang lainnya. Negara tersesat dalam hutang luar negeri yang berkepanjangan dengan mewariskan birokrasi negara yang menawarkan keruwetan tersendiri.

Bingung, kan? Jujur, aku juga bingung!!

 

 

 

(Fin)

 

 

 

1 Response to “kita Mungkin tersesat di negeri ini”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Indonesian Muslim Blogger
Catatan Sawali Tuhusetya

Akafuji Supports In

Gudang karya

Bukan Hitungan Weton

Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pengunjungku

  • 81,042 Click

Klik klik teruuss...

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: