Mari Bicara Cinta

            Rumahku memang kecil dan mungil, tapi begitu hebat dalam merangsang imajinasiku. Tak tehitung berapa banyak khayalan tentang keindahan kubayangkan hadir di dalamnya. Dari berbagai imajinasiku itu yang paling sering menggoda adalah sebuah taman bunga. Walaupun sadar kalau keinginan itu tak akan pernah terwujud jika kumelihat ketiadaan lahan yang cukup untuk sebuah pekarangan, apalagi sebuah taman.

            Rumah mewah, bagus, artistik dengan taman bunga yang indah dan luas toh tetap menjadi tetangga yang punya. Maklumlah, tetanggaku adalah pengusaha nomor wahid di tempat aku tinggal. Jadi sudah sewajarnya dia memiliki taman bunga yang begitu elok. Sesekali kutengok taman itu kala kulewat depan rumahnya. Hanya decak kagum melihat rumput-rumput hijau yang tertata rapi dengan juntai aneka anggrek dan tanaman mahal lainnya. Arrrrrgh……hanya fantasiku yang memiliki taman serupawan itu. Aku sangat sadar dengan terbatasnya lahan yang kupunyai plus dana yang ada di kantongku.

Aku mencintai bunga dalam arti yang sesungguhnya, bukan bunga nama samaran ataupun istilah mencintai sesuatu atau seseorang secara musiman (hanya musim bunga saja) yang sekali waktu bisa pudar dan cepat hilang. Walaupun berkali-kali aku bertemu kepalsuan dan dihianati penjual bunga, Aku tetap bersemangat untuk merawat dan menyirami bunga-bunga tersebut.

Ketika sedang berlibur ke daerah pegunungan sejuk, selalu kusediakan sesi khusus untuk mencari bunga. Dan aku pasti terpesona pada anggrek-anggrek yang tangkainya dikerubuti kelopak-kelopak segar yang sedang mekar. Sangat kontras dengan penjualnya. Ibu-ibu tua yang keriput. Sementara anggrek-anggreknya tampak begitu cantik dan memikat.

            Anggrek-anggrek itu memang cantik, tapi aku tidak bergeming untuk membelinya. Atas dasar suatu pengalaman temanku yang tertipu saat membeli anggrek tersebut sebelumnya. Anggrek tersebut layu setelah sampai rumah. Daun-daunnya melorok tak bertenaga. Bunganya layu, dll. Boleh jadi karena suhu yang tidak memungkinkan untuk anggrek tersebut hidup. Mungkin saja sih…..!!!

            Usut punya usut ternyata, ia hanyalah setangkai anggrek yang dipotong, diberi tanah, pada ujung pangkalnya, dibungkus dengan kulit kelapa dan diikat pada suatu media lain. Sejatinya, ia tidak punya akar untuk menghidupi dirinya sendiri. Dan aku pun tidak ingin mendengar dari diriku sendiri berkata, “Oo…… Ibu tua, teganya kau jual bunga tak berakar ini padaku.”

 

 

            Beberapa bulan yang lalu (pertengahan tahun 2007) aku membeli bunga Desember yang daunnya mirip daun pisang di kios bunga, di pasar dekat tempat kerjaku. Dari kios itu banyak terdapat aneka bunga dan sudah menjadi langgananku sejak aku kerja di daerah tersebut. Aku berinisiatif membeli bunga tersebut karena tetanggaku juga mempunyainya, namun bunga tersebut belum beranak, jadi aku tidak dapat memperolehnya secara gratis. Menurut si penjual, kalau sedang berbunga, bunga Desember akan memunculkan mekar seperti kembang api berwarna merah. Tapi, itu hanya berlangsung  pada bulan Desember saja.

            Bulan demi bulan terus berganti, hingga tibalah bulan Desember yang ku tunggu-tunggu. Bunga itu tak kunjung mengeluarkan bunga. Sampai akhirnya habis sudah bulan Desember. Karena kesal, sepulang kerja ku omeli si tukang bunga itu. Tapi apa kata penjual tersebut, “Sabar Mbak, tunggu bulan Desember mendatang……….”

            Ya Allah, betapa berat ujian kesabaran akan cintaku padamu wahai bunga…..

            Barangkali memang begitulah resiko jatuh cinta, tak selamanya ketulusan bakal berbuah kejujuran……..

 

 

                                                                        ( Fin )

6 Responses to “Mari Bicara Cinta”


  1. 1 akafuji Februari 19, 2008 pukul 8:04 am

    * ditunggu yawh komennya *

  2. 2 Sawali Tuhusetya Februari 19, 2008 pukul 10:56 am

    iya, ya, bu nisya. aku datang, hehehehe😆 wah, jangan sewot dong bu. bunga yang sangat disukai bu nisya itu akan terus tumbuh dengan bunga2 yang harum. tapi lebih dari itu sebenarnya ada yang lebih berharga dari taman bunga biasa loh bu. Apa? yap, taman hati, halah. di situlah bunga2 yang sejati akan terus tumbuh dan bermekaran menghiasi hayat kita, bahkan hingga ke taman syurga. bener ndak bu?

  3. 3 peyek Februari 19, 2008 pukul 3:07 pm

    Hm.. mendalam, specchless!

    tak selamanya juga kesabaran harus terbayar lunas hari ini bukan?🙂

  4. 4 mybenjeng Februari 22, 2008 pukul 2:55 am

    cintai apa yang anda miliki, miliki apa yang anda cintai.
    *halah,
    habis nonton kick andy metrotv bintang tamunya andre wongso sang motivator*

  5. 5 singokalem Februari 23, 2008 pukul 8:18 am

    hmm…harusnya bu nisya beli bunga januari-desember, biar tiap bulan selalu ada bunga yang mekar. tapi kalo ga ditipu penjual bunga lho. bunga pemberianku udah mekar lom y?

  6. 6 agus rest Februari 24, 2008 pukul 1:59 pm

    Barangkali memang begitulah resiko jatuh cinta, tak selamanya ketulusan bakal berbuah kejujuran……..

    barangkali juga perlu direview ulang kadar ketulusan itu, yahhh…mkn hampir sama dgn makna ikhlas kali yahh… *sepertinya… msh bau2 val day nihh:mrgreen: *


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Indonesian Muslim Blogger
Catatan Sawali Tuhusetya

Akafuji Supports In

Gudang karya

Bukan Hitungan Weton

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Pengunjungku

  • 81,042 Click

Klik klik teruuss...

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: