~so sorry~

hai all my friend, i am sorry never posting anymore…

Aku Suka Menulis : Kenangan Waktu SMA

I think I love writing. I enjoy writing a long story or any expository. Writing for school magazine (Romansa Cendekia) is not a pressure to me. But why I cannot writing while i’m underpressure. Lumayan sih, sekali karya yang dimuat dapat uang lelah (fee) Rp. 10.000,00. Aku aktif banget mengirim karya-karya ku dulu. Tapi, Aku sama sekali ga bisa nulis pas ulangan bahasa Inggris. Nulis karangan expository itu yang tentang poster, ide-ide yang biasanya muncul banyak dalam kepala aku, pas ulangan sama sekali ga ada. ini bikin aku STRESS dan akhirnya ga bisa nulis. Cuma buat karangan seadanya. pas ngasiin ulangannya ke Miss Adeniyi, aku bilang kalau aku ga bisa nulis kalau pas ulangan. Mana banyak yang terus nanya-nanya ” Nisy, ini bahasa Inggrisnya … apa ya?” bikin aku tambah underpressure. Rasanya pengen bilang, ” Woiii karangan aku aja masih nol, kamu nanya-nanya!!” padahal otak ku buntu sebuntu-buntunya. Lanjutkan membaca ‘Aku Suka Menulis : Kenangan Waktu SMA’

Aku Tentang Aku…

• Sangat takut dengan ulat, trauma masa kecil
• Tidak doyan daging sapi dan kambing
• Suka sekali membaca buku dan majalah apa saja yang bikin ilmu dan wawasan jadi bertambah
• Kadang suka menyendiri, merenung dan berfikir tentang sesuatu. Huff…akhirnya nangis juga sih…
• Suka sekali mengumpulkan tas plastik (kresek) belanjaan, bukan untuk koleksi lho. Tapi, sekedar untuk jaga-jaga siapa tahu ibuku butuh untuk tempat/bungkus sesuatu.
• Kalau belajar huruf kanji sampai larut, waktu kuliah. Walo huruf itu begitu sulit tapi tetap aja belajar dan harus hafal. Malu ah, kalo ga bisa baca…sekarang mah udah bisa
• Suka banget dengan lagu 11 Januari nya Gigi, You know, that song is so me…(lagu itu aku bangetz)
• Takut naik lift ato permainan ekstrim yang memacu adrenalin, kecuali memang harus pake lift
• Lebih bisa berbahasa Inggris dari pada berbahasa Jepang. Secara, belajar bahasa Inggris sejak dulu he..he.. Lanjutkan membaca ‘Aku Tentang Aku…’

Letter For Him…

Aku fikir dia orang yang tertutup, dan selalu merasa benar. Tapi, aku salah. Lewat sikapnya, aku tahu dia orang yang rendah hati namun tetap berani.

(sesunguhnya) aku ingin lebih dekat dengannya. Aku ingin lebih lama dengan segala kedamaian hatinya. Kenapa aku tidak bisa meraih apa yang ingin aku raih? Apa Karena aku dan dia berbeda?
Mata air hatiku telah kering oleh dirinya yang telah berubah.

Dia telah menemukan jalan hatinya. Dan, itu bukan aku. Aku sungguh mencintainya…

Dari yang selalu merindukan damai hatimu…

Myself : Unextended Version (Chapter 2)

Setiap bulan Februari, menjelang Ramadhan dan akhir Ramadhan aku selalu datang ke makam ibuku. Di bulan Februari itu ibuku, Lasmi Yusuf menghembuskan nafas terakhir kalinya. Sekiranya dia begitu cantik waktu itu. Meninggalkanku merah, dan tanpa disusuinya lagi. Kadang terlalu dilematis untuk diceritakan. Huff..
Aku tidak akan pernah lelah dengan hidupku. Aku akan tetap FIGHT and SURVIVE untuk hidupku sekarang dan nanti. Huff…No Way For Tired.
Kuparkir sepedaku di pelataran parkir pemakaman Kristen Immanuel di tempat tinggalku. Sejatinya itu hanya untuk makam orang-orang Kristen, tapi entah mengapa orang-orang Katolik pun juga dimakamkan di situ, termasuk ibuku. Kulepaskan alas kakiku menuju pusara ibuku. Ada di sebelah agak ujung sana. Tertutup dengan makam seorang Romo yang cukup besar.
“Ohh..Ibu, aku begitu rindu denganmu”, kesahku dalam hati. Aku berdoa dengan caraku sendiri. Cara yang ibuku sendiri dulu mungkin belum pernah mengenalnya. Di bulan Februari terakhir ini, aku bebarengan dengan beberapa orang yang datang ke makam itu dengan maksud seperti aku, berziarah. Hanya aku yang memakai jilbab di sana, hanya aku yang melepas alas kaki. Mungkin dalam hati mereka “kenapa aku ini ada di sana?”. Lanjutkan membaca ‘Myself : Unextended Version (Chapter 2)’

Letter for You…

Wahai orang yang lembut hatinya…

Telah lama aku mengecap pahit

Kelam oleh penderitaan

Aku tidak ada siapapun

Kecuali ALLAH azza wa jalla di hatiku

Dan (saat itu) kau sungguh datang dengan cahaya

Menyinari hatiku yang tidak berpengharapan

Memberi kasih di saat aku terluka

Menjernihkan fikirku di saat emosiku berkecamuk

Tapi, kini kau telah pergi

Membawa segala cahaya yang kau punyai

Tanpa meninggalkan sedikitpun cahaya di hatiku

Haruku menyertai pergimu

Salam tulusku untukmu…

Dari yang selalu merindukan cahayamu…

Myself : Unextended Version (Chapter 1)

Maria Yusuf, begitulah nama yang seharusnya orang memanggilku. Bukan karena aku tidak bangga dengan namaku yang sekarang ini. Tapi…

****

Aku lahir dari seorang perempuan katolik bernama Lasmi Yusuf. Dan, ayahku adalah Wongso Yusuf. Ibuku meninggal saat aku masih merah. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya bapakku pergi merantau ke Negeri Singa atas ajakan teman segerejanya. Dan aku diasuh oleh orang tuaku yang sekarang ini (Tn dan Ny Sahid) yang juga merupakan sahabat bapak dan ibuku.

Walau aku dan bapakku jarang sekali bertemu, aku sangat menyayanginya. Dia tinggal di sana dan telah menikah dengan wanita sana keturunan Tionghoa. Dan mempunyai seorang anak yang lucu sekaligus adik tiriku, Suzainne Yusuf.

Sejak lulus SMA, ayahku sudah berulang kali membujukku untuk melanjutkan pendidikan di sana. Bapakku berfikir kualitas pendidikan dan kehidupan di sana jauh lebih baik dari pada di Jawa (Indonesia). Tapi, aku tetap bersikukuh untuk tinggal dan bersekolah di Indonesia. Aku masih berfikiran kalau aku akan lebih cocok untuk tinggal di Indonesia. Lanjutkan membaca ‘Myself : Unextended Version (Chapter 1)’


Indonesian Muslim Blogger
Catatan Sawali Tuhusetya

Akafuji Supports In

Gudang karya

Bukan Hitungan Weton

Juni 2017
S S R K J S M
« Apr    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Pengunjungku

  • 86,424 Click

Klik klik teruuss...

  • Tidak ada