Tak pernah terbayangkan di pikiranku untuk kerja jauh dari tanah kelahiran. Memang waktu pertama kali aku melamar di salah satu anak perusahaan PT. Semen Gresik, tepatnya di KWSG, aku tak pernah berpikir akan di tempatkan di Kendal, JATENG, kota kecil yang aku tahu bersebelahan dengan semarang, selebihnya itu aku tidak tahu sama sekali. Sebelum berangkat ke Kendal, aku diberi tahu oleh orang SDM, bahwa aku akan ditempatkan di Weleri. Setelah cari informasi dari teman-teman kerja yang senior, aku diberi tahu kalo Weleri itu sejuk seperti kota Malang, dikelilingi bukit yang hijau di sebelah selatan, di sebelah utara dihadang oleh laut jawa, disebelah timur ada kota Semarang, dan sebelah barat ada alas roban atau kota Batang. Memang Weleri di kelilingi oleh bukit, tapi Weleri masih kalah dingin bila di bandingkan kota Malang. Pantainya pun demikian, tak seindah hayalku saat browsing, di salah satu website di jelaskan, kalo Weleri punya pantai yang sangat asri dengan pasir pantai yang bersih, air laut yang jernih, dan biasa disebut pantai Sendang Sekucing. Tapi semua keterangan di website itu gak sesuai dengan kenyataan. Di weleri bila jam 9 malam keatas pasti udah sangat sepi. Hiburanku disini cuma jalan-jalan di Semarang saat malam Minggu, ngopi di perempatan megatron UNDIP dan sekali kali jalan dimall untuk nonton atau sekedar menikmati kopi execelso di mall ciputra simpang lima.
Di Weleri sangat panas, lalu lintasnya sangat semrawut, di sini kalo malam hari, polisi seakan tidak punya taji. Weleri bisa juga di sebut kota parkir, karena dikit-dikit pasti kena parkir. Pertama kali menginjakkan kaki di sini, aku sangat sulit untuk beradaptasi dengan makanannya yang sangat manis menurut aku, sangat sulit cari warung yang menyediakan makanan yang pedas, gurih dan asin khas JATIM.
Walaupun aku orang jawa tulen, tapi aku tidak pernah bisa bahasa jawa krama inggil. Ada banyak cerita lucu disini, hanya gara-gara perbedaan bahasa. Seperti waktu sarapan pertama kali.
Saat sarapan di warung bu tien pasar weleri.
Penjual “maem ulam tigan (telor) mas?”
aku “mboten, kulo maem ulam ndok mawon”
ternyata yang di sediakan Cuma telor di warung itu. Sontak semua orang yang ada di warung tertawa waktu dengar aku ngomong, karena aku nggak ngerti kalo tigan itu telor.
Ada juga cerita lainya yang bikin aku meringis kalo ingat.
Seorang kuli bongkok di gudang KWSG datang dengan bawa nasi bungkus, lalu bertanya pada aku,
“kulo pak sarapan, pak Yugo”
aku jawab pake bahasa jawa alus seadanya, “lho sampean kan pak kaswan”
“nggeh mas, kulo pak kaswan, tapi kulo pak sarapan”
“aku berpikir kalo sarapan itu nama lain pak Kaswan”
lalu sopirku yang kebetulan putra daerah yang juga ngerti orang JATIM, karena udah di KWSG selama 5 tahun, Maklum di KWSG mayoritas orang JATIM, dia menjelaskan kepadaku kalo arti dari “pak” disini adalah akan, atau kalo bahasa JATIM berarti arep.
“oalah…. Sampean arep sarapan ta pak?, tak kiro jenenge sampean loro, pak kaswan karo pak sarapan. (oalah.. anda mau makan tho pak?, aku kira anda punya dua nama, Pak kaswan dan pak Sarapan). Pak Kaswan pun tersenyum dengan obrolan kita.
Saat di Pekalongan pun aku juga sempat dibikin bingung dengan wanta.
“unjukane nopo mas?”
aku jawab pake bahasa jawa kromo “ tuyo petak bu (air putih bu)”
lalu si pemilik warung memanggil anaknya, dan menyuruh nya “ jopokno wanta le”
lalu aku spontan jawab “mboten bu, kulo minum tuyo petak wae”
“lha ngge mas, wanta niku tuyo petak”
oalah…
Sekarang aku lagi kuliah lagi di Universitas Semarang, selain untuk mengisi waktu hari sabtu dan minggu yang menjemuhkan, juga untuk menambah ilmu. Dengan kuliah dan kos di Semarang (tapi kosnya Cuma aku tempati hari sabtu-minggu aja), aku berharap mendapat ilmu dan kegiatan yang tidak membosankan di sini.







jangan boring buk….
wanta petak niku sae kangge kewarasan…
lho?
Jatuh cinta sebanyak-banyaknya… Ga boring lagi kan, cuman pusing aja…
We miss u here!
jangan Borring Bos. klo borring datang ngat lha Namaku Lak ngguyu dewe mengko
kapan pak Yugo wangsul teng JATIM malih?
loh iki tulisan sopo tohhh, bu yugo opo pak yugo?
halus bangety bahasa jawanya
disyukuri aja dulu mas
ntar pasti akan ngasih yg lebih kalo disyukuri
hehehe
sok tau****
inggih sampun pak mboten usah boring, mangke cepet tuo he he he