“Lir-ilir tandure wis sumilir
Sing ijo royo-royo, tak sengguh kemanten anyar
Cah angon-cah angon, penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedah ing pinggir
Dondomono jematono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane
Yo sorak ooo sorak horee…”
Masih ingat kan, syair itu? Ini adalah salah satu dari syair yang diciptakan oleh Sunan Giri dalam rangka mensyiarkan agama Islam. Memang pada zaman kesunanan, metode penyebaran agama rohmatallil ‘alamin ini cenderung melalui pendekatan budaya dan sastra (akulturasi budaya dan sastra). Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia pada saat itu masih beragama Hindu, Budha, Animisme dan Dinamisme.
Makna filosofi dari syair-syair di atas sangat dalam yaitu:
“Bayi yang baru lahir di dunia ini (tandure wis sumilir) masih suci, seperti penganti baru, setiap orang ingin memandangnya (Sing ijo royo-royo, tak sengguh kemanten anyar). Bocah angon (penggembala) itu diumpamakan sebagai santri yang belajar agama. Sedangkan buah blimbing adalah buah yang memiliki 5 belahan, maksudnya adalah sholat 5 waktu/rukun Islam yang berjumlah 5. walaupun lunyu (berat) harus dikerjakan untuk membasuh dodotiro (jiwa yang kotor). kumitir bedah ing pinggir Dondomono jematono kanggo sebo mengko sore maksudnya bahwa orang di dunia ini cenderung untuk berbuat dosa, segan berbuat baik, maka dengan mengerjakan sholat 5 waktu diharapkan kelak bisa dijadikan bekal menghadap Tuhan. Dan bekal itu adalah amal saleh”.
Sunan Giri adalah seoarang putra dari Syech Maulana Ishak dan Dewi Sekardadu (putri Raja Blambangan). Karena suatu hal sang bayi tersebut dibuang/ dihanyutkan di tengah lautan. Pada saat bayi Sunan Giri mengapung-apung di lautan melintaslah kapal Nyai Ageng Pinatih. Olehnya diangkatlah sebagai anak angkat dan diberi nama Joko Samudro.
Menginjak dewasa, Joko Samudro dikirim ke Ampel Denta Surabaya (Sunan Ampel) untuk belajar agama. Oleh Sunan Ampel ia diberi nama Raden Paku, dengan harap kelak ia akan menjadi paku dunia yang akan dipatuhi oleh umat. Di sana ia menimba ilmu fiqih, tafsir hadist, dan ilmu falaq (nahwu dan shorif). Setelah menimba ilmu di Ampel Denta, ia kemudian melanjutkan menimba ilmu di Samudra Pasai. Sekembalinya dari Samudra Pasai ia menikah dengan Dewi Murthosiyah (konon puteri Sunan Ampel dari istri Boto Putih) dan ia juga menikah dengan Dewi Wardah (putri Kyai Ageng Bungkul, pembesar dari Surabaya bagian selatan).
Pada 1403 Saka/1481 M ia mendirikan pondok pesantren sebagi pusat perkembangan syiar Islam di Gunung Giri. Kemudian berdatangan santri dari berbagai daerah baik Jawa ataupun luar Jawa. Di sana pula ia dikebumikan. Dalam hal ini, ia juga menggunakan pendekatan budaya dan sastra seperti pada syair-syair di atas.






mungkin ini sedikit yang membanggakan sebagai bagian didalamnya
pelajaran moral yg dpt kita petik, barangkali utk sebuah tujuan yg mulia, diperlukan cara-cara yang mulia pula, dan Sunan Giri sdh melakukan hal itu *nyambung ngga yahh
semasa kecil saya sering nyanyikan lagu ini.
menginjak dewasa saya semakin lupa dengan (makna) lagu lir-ilir.
pendekatan budaya dan sastra?? idenya keren banget yah..
Nice post
saya tak bisa mengerti sendiri dari bahasa aslinya, untung ada terjemahan atau pengertian dibawahnya yang dapat membuat saya dapat sedikit mengambil hikmah dari nyanyian tersebut.

thx.
yang saya tangkap cuma tak salah untuk mengkaji atau mencari ilmu setinggi mungkin tapi jangan lupakan dasar agar tak melambung terlalu tinggi ke langit.
maafkan kalau saya justru sudah salah mengartikannya.
huhuhu
wah jd inget pelajaran sejarah
lagu ilir2 itu masih sering saya dendangkan, bu nisya. syairnya penuh simbol, tapi mudah diingat.