Setiap hari kutempuh jarak 30 km PP menuju ke tempat kerjaku. Pagi buta aku sudah bangun. Setelah sholat shubuh, segera aku bersiap-siap untuk pergi bekerja. Udara pagi di musim hujan dingin sekali, tak ubahnya seperti udara dingin di Kota Batu Malang. Belum lagi indahnya pemandangan hijau sawah-sawah dengan beberapa petani yang terlihat begitu giat di sawahnya. Subhanallah……begitu indahnya nikmat bisa memandang pemandangan pagi seelok itu.
Kulirik dengan jelasnya mereka dari kaca helmku. Ada orang gila yang kesana-kemari membawa karung dan tongkat. Ini layaknya orang yang dulunya berprofesi sebagai pemulung. Ada yang selalu nongkrong di traffic light. Ada yang selalu mambawa tas belanjaan yang berisi sayur-mayur yang sudah layu, mungkin saja ia mendapatkannya beberapa hari yang lalu. Dan masih bertahan di genggamannya sebagai aksesoris wajib. Hmm….memang ada-ada saja ulah mereka. Ada juga sepasang orang gila yang kemana-mana selalu bersama menelusuri jalanan yang seakan tanpa batas. Ialah Rantimah dan Ja’pan. Begitulah orang-orang memanggilnya. Mereka adalah sepasang ibu dan anak. Walaupun dalam keadaan yang sudah tidak waras lagi, mereka tampak rukun bersama layaknya orang yang masih waras. Kadang kulihat mereka asyik ngobrol, entah apa yang mereka bicarakan, hanya merekalah yang tau. “Suatu hal yang excelent, ternyata orang gila masih perlu komunikasi”, batinku. Apalagi, seorang yang masih waras yang nyata-nyata masih sangat butuh untuk berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Ada-ada saja gaya mereka. Dalam sehari ( PP dari tempat kerjaku ) kulihat 4 – 6 orang gila berseliweran di jalan. Wow….suatu jumlah yang excellent.
Kira-kira apa yang membuat mereka seperti itu? Dipastikan karena tekanan hidup yang luar biasa dengan tanpa disertai solusi yang bisa menentramkan hati mereka. Ditambah lagi jauhnya mereka dari Tuhan. Padahal disini, Tuhan yang mempunyai andil yang paling mutlak sebagai tempat berlindung, bersimpuh, berteduh, dan kembali.
Wallahua’lam..
(Fin)






wew… mesti gila, ternyata bisa memberikan teladan mereka yang masih menganggap diri waras tetapi suka tawuran dan kekerasan. ntw, bu nisya ndak capek yak lalo harus nempuh jarak sejauh itu setiap hari! salut deh! semangath, bu nisya!
hhmm, kalo dt sih jarang ketemu ama orang gila..
tp kalo tmn2 yg ‘gila’, srg bgt ketemu di kampus mbak..
setiap orang itu pada dasarnya gila
tapi hanya orang gila lah yang percaya kalau dia juga gila
ah bercanda
Hm… pernah dengar wali jadab?
pernah dengar Habib Bakar yang di alun-alun gresik, seputaran masjid jami’ gresik dulu?
Hm.. ingatan saya kembali kesana
kulihat 4 – 6 orang gila berseliweran di jalan. Wow….suatu jumlah yang excellent.
kalau menurut yang 4-6 tadi kenapa buanyak banget orang-orang yang aneh gak kaya kami… hehehe
karena jamannya sudah edan jadi kalo ndak ikut ngedan ndak kebagian..
*ngawur ya saya *
adik saya kalau habis bepergian, kemanapun, pasti nggak lupa cerita tentang orang gila yang ditemuinya di jalan.
edan, gila…
yg membuat mereka seperti itu:
mereka lupa Sang Pencipta langit dan bumi
beberapaha hari yang lalu pernah ngeliat satu di tengah jalan berdiri sambil memukul-mukulkan tinjunya ke arah kendaraan yang datang ke arahnya. bener2 bergaya seperti petinju. tapi mukanya seram sekali beringas seperti preman. gak ada lucu2nya
seram malah.
Kulonuwuuun…
wah, judgementnya Carik’e ngerasa kurang pas soal kedekatan sama Tuhan. Itu mah urusan Tuhan soal judgement.
Btw, Carik’e jadi mikir, berapa orang gila yang ada di kelurahan. Kayaknya cuma satu orang gila sekelurahan, yaitu…