Kertas jepang dan melipat :
Bagian dari budaya tradisional
Sejak dahulu, orang Jepang mempelajari cara untuk menggunakan serat kulit kayu dari semak belukar seperti kozo dan gampi untuk membuat kertas yang tipis tetapi kuat. Kertas tersebut digunakan di rumah – rumah untuk pintu geser fusuma dan pembatas byobu. Selembar kertas yang kuat diperlukan untuk hal ini, sehingga pabrik – pabrik mengembangkan teknik untuk menempatkan erat – serat tersebut dalam sejumlah lapisan. Kertas ini nantinya digunakan untuk menutupi ruang – ruang kosong pada pintu geser shoji, yang memberikan kadar privasi tetapi sinar masih dapat menembusnya. Lentera chochin dan lampu andon, yang banyak digunakan dari abad ke 12 sampai abad 17 dan setelahnya, juga memberikan sedikit sinar melewati kertas. Lentera chochin yang dapat di lipat membutuhkan kertas yang cukup kuat untuk menahan pengulangan proses melipat dan membuka lipatan setiap kali lampu ini di simpan, kemudian digunakan lagi nantinya. Jenis kertas seperti itu, yang dikenal sebagai washi, kemudian dianggap cocok untuk origami juga.
Empat musim berbeda di Jepang sejak dulu telah di tandai dengan beragam aktivitas pertanian, dan seiring dengan perayaan – perayaan yang berhubungan dengan pertanian. Aktivitas ini menjadi kegiatan sangat penting yang menandakan perubahan di dalam siklus tahunan. Kegiatan tersebut menjadi berhubungan dengan sebuah budaya yang menitik beratkan formalitas dan kelakuan baik,misalnya, persembahan untuk para dewa diletakkan diatas ketas lipat yang formal, dan benda-benda perayaan dibungkus dengan kertas dalam gaya yang benar-benar formal. Kebiasaan ini, yang diasumsikan dimulai pada jaman dahulu. Nantinya tercermin dalam tingkah laku yang formal, disebut orikata atau origata, adalah batu pondasi dalam perkembangan origami.
Origami membuat otak tetap waspada.
Spesialis profesor Kawashima Ryuta adalah dalam ilmu pengetahuan tentang otak dan melakukan penelitian paa Institut Pengembangan, penemuan dan Kanker Universitas Thohoku. Ia telah mendemontrasikan bahwa dengan melakukan origami dapat meningkatkan jumlah aliran darah yang mengalir di dalam bagian depan otak besar yang terpenting di dalam otak sehingga menolong otak berfungsi lebih baik. Karena itu banyak perkumpulan lansia (lanjut usia) melakukan kegiatan origami. Satu kelompok yang bernama Jaringan Lansia Seandai mengadakan acara “Mengobrol dan Origami” sekali seminggu. Anggotanya berusia 60-an, 70-an dan 80-an dan mempunyai slogan :”Origami menenangkan, tiga kali dalam kehidupan”. Artinya? Anak – anak belajar origami di usia muda. Ketika menjadi orang tua mereka mengajarkan nya kepada anak-anak mereka. Dan ketika menjadi tua mereka melakukan lagi.
Origami adalah suatu hiburan, sesuatu yang dilakukan untuk kesenangan, jadi jangan kuatir kalau hasilnya sedikit bengkok atau lipatannya tidak benar-benar lurus. Ketika orang Jepang berpikir tentang Origami mereka mungkin berfikir tentang burung bangau lipat (Zuru). Cara membuatnya mudah bahkan anak TK pun bisa. Suatu kepercayaan Jepang, jika kita memberikan 100 zuru kepada orang sakit maka dewa akan segera memberi kesembuhan padanya.
Upacara minum teh, rangkaian bunga, kabuhi dan elemen izinnya dari budaya Jepang sangat dikagumi diluar Jepang, termasuk Indonesia, tetapi cara termudah untuk berhubungan langsung dengan seseorang adalah Origami, yang dibutuhkan hanya selembar kertas dan tinta bisa melihat betapa mudahnya origami. Bermacam – macam jenis origami ada pada background.






minta wabsite tentang mengunting,melipat dan menempel kertas jepang…selain origami
origami is such a nice hobby.